Bertemu dengan sosoknya yang penuh kekakuan secara tidak sengaja.
Setelah rasa suntuk yang menemani, aku nekat bermain sebuah bot yang dapat menemukan manusia dari berbagai belahan dunia, tentu saja dengan watak yang beraneka ragamnya, sehingga terkadang ada rasa muak melanjutkan obrolan. Memilah tiap pertemuan yang terkadang terasa menyesatkan. Semua ada yang dilalui, dihindari, bahkan diakhiri. Pertemuan yang tak disangka, setelah pertemuan dengan sekian banyak manusia, yang tentu saja ramah dan penuh candaan, akhirnya terhenti begitu saja ketika bertemu dengan pria kaku yang entah berasal dari bumi bagian mana. Enggan untuk berbasa-basi, sehingga aku harus berusaha lebih banyak agar obrolan menyatu.
Mengapa tak menghindar seperti yang sebelumnya? entah.
Terus melanjutkan yang nyatanya aku sadari seperti sedang berlayar sendirian. menyebalkan.
Semua obrolan berakhir, di bot. Namun tetap saja, kaku.
Pesanku yang dibalas hanya ketika dia mau, bisa 12 jam sekali, bahkan 1 hari penuh. Aku mencarinya? tentu tidak. Aku penuh gengsi. Lagipula saat itu aku hanya butuh peneman saat kesepian, bukan pasangan yang harus senantiasa memberi kabar. Kita juga bukan apa-apa sehingga tidak begitu penting saling mengetahui kondisi satu sama lain.
Sekitar seminggu kami berinteraksi secara semau hati, dan si pria kaku yang tidak jelas asalnya, mulai bisa menyatu dengan keadaan yang terpaksa membuat kami bertemu. Membuat gombalan-gombalan yang terasa basi, namun aku menikmati semua alurnya. Pria kaku, mulai menampakkan sisi menyenangkan yang awalnya hanya membayangkan saja terasa cukup mustahil.
Semua rasa menyenangkan tergantikan dengan pertengkaran hanya karena sebuah perayaan. Menuju 2 hari yang dirayakan oleh banyak manusia, sebagai hari kasih sayang. Benar, valentine. Rasa rasanya cukup mustahil untukku yang malas berkomunikasi dengan lawan jenis merasa perayaan tersebut. Dia yang memaksakan ingin memberi hadiah, namun aku yang senantiasa menolak karena belum ada pertemuan tatap muka.
Munafik? ya mungkin begitu. Sangat amat langka wanita yang tidak suka hadiah, khususnya di hari yang dirayakan oleh banyak insan manusia. Namun apa boleh buat? aku takut rasa kecewa. Bertanya-tanya sendiri apakah nantinya ia kecewa dengan keadaanku yang nyata(?).
Ratusan pertanyaan yang terus memelukku, seolah-olah diri ini percaya bahwa lingkungan tak akan bisa menerima keberadaanku, khususnya untuk berbahagia kembali.
Komentar
Posting Komentar